Ya, Pantai Trisik.
Bapakku hebat
Bapakku kuat
Bapakku pahlawanku
Sampai sekarang beliau pensiun pun anak murid maupun alumni SD tersebut masih ingat dan segan.
Tak jarang buah tangan hasil kebun atau sawah pesisir mendarat dirumahku. Alhamdulillah, gratis dan halal serta mengenyangkan. Tentu nikmat bukan?
Setahuku, bapakku tegas. Galak pasti. Anak murid sering diberi uang jajan. Apalagi murid putra. Maklum ke empat anaknya puteri semua, termasuk aku anak keduanya.
Sewaktu aku masih kecil, masih ingat bapak sekolah pakai sepeda ontel. Ibuku selalu mengingatkan untuk memakai topi. Pernah lupa dan sampai rumah wajah putih bapak jadi merah kebakar alias gosong. Menyisakan kulit dalam yang aman dari sengatan matahari.
Jarak sekolah ke rumah kurang lebih 3kilometer. Tapi bayangkan naik sepeda naik turun dan angin yang besar.
Iya, melewati sawah yang luas membentang tanpa penghalang dan bertemu jalan raya yang tentunya aspal tersebut membentuk fatamorgana ketika siang lagi terik-teriknya. Panas menyengat.
Berangkat pagi sebelum pukul 7. Pulang jam 11 atau setengah 1.
Ibuku yang tak lupa masak sarapan. Pasti kudu sarapan dengan menu apa-adanya. Karena pagi kita semua berjuang hingga siang. Berjuang dalam artian untuk hari ini dan masa depan yang lebih baik dalam bentuk kegiatan harian, belajar dan bekerja.
Tidak selalu bersepeda. Motorpun sering ganti. Ganti dijual ataupun tukar tambah dari beli pertama kali yang sudah second. Untuk kebutuhan kami.
Motor bebek yang ringan jika dipakai ngebut. Nyaman. Tapi tidak bagi yang berbadan gemuk. Menurutku🤣
Beli sepeda motor baru pertama kali itu ketika aku kelas 6SD tahun 2001 kalau ga salah. Motornya "smash" dan itu pun berakhir dijual. Cuma sampai berumur 5 tahun sepeda motor baru kakek. Saat itu aku duduk di bangku sekolah menengah atas atau SMA. Jualnya ke tetangga desa deket SDku dulu dan kalau melihat si om yang beli lewat pasti senyum dan membatin "itu motor bapak dulu".
Hmm
Lika liku kehidupan yang pasti ada pasang surutnya. Jelas
Wajar dialami semua umat.
Roda kehidupan yang selalu berputar bukan?
Sedih kalau diingat. Bapak kerja sendiri menghidupi kami ber6 hingga lulus dengan gelar sarjana pendidikan. Berbeda dengan si bungsu yang memilih tehnik. Berbeda dengan hasil cumloudenya. Alhamdulillah😇
Istilahnya gali lubang tutup lubang ya.
Dan yang kelihatan aku dan adik pertama cuma beda 2 tahun sekolah. Saat kelulusan dan saat pendaftaran pasti berbarengan.
Bukan bermaksud menyalahkan ibuku yang tak bekerja. Bapakku memang tidak menyuruh ibu bekerja. Tapi ibu tidak sepenuhnya menganggur. Tugas ibu banyak. Sampai kami pulang sekolahpun ibuku pasti memegang kerjaan rumah. Mengupas kulit mlinjo yang sebulan cuma dapet 40rb. Dan saat itu duit segitu amat sangat besar. Bisa beli beras berapa kilo atau mencukupi kebutuhan lain. Selain itu ada juga membuat kerajinan tangan enceng gondok. Kami sekeluarga membantu. Tak jarang begadang jika kerjaan harus selesai besok.
Tangan yang kena kapal saking lamanya pegang pisau. Atau bahkan teriris pisau itu sendiri. Dan hal yang pasti kalau tanpa dibaluri plastik adalah tangan bisa keropos pedih sendiri. Soalnya mlinjo kan ada getahnya.
Dan jika sudah lupa membungkus jempol atau telunjuk dengan plastik ya resiko pedes. Pasti ga bisa bantu lagi untuk mengupas mlinjo.
Semuanya ikhlas
Sabar
Serba bergantian
Ingat kalau sepatu atau tas rusak gantian dulu adik atau kakak. Beli barangpun nunggu rusak dulu. Belum ada barang "cadangan".
Hal sedih cukup diingat aja ya.
Hal lucu dari kakekku pahlawanku sangat banyak. Pelan dan terinci aku ingin menjabarkannya semua. Sekalian membuka ingatan lamaku dulu. Sayang kalau cuma diingat tanpa ditulis. Biar jadi bahan bacaan anak cucu dan semoga senyum indah merekah bagi mereka kala membacanya.
Bapakku naik sepeda ke sekolah lewat kali atau biasa disebut sungai. Kali lumayan gede dan pagar pembatas jembatannya cuma disebelah kanan. Mau jalan barengpun ga bisa. Harus depan belakang. Semisal ada arah berlawanan mau lewat, ya kita mengalah dulu. Unik ya
Sapa-sapaan dari jarak jauh, " YoOoo pak/bu. Monggo riyen"
"Ya pak guru"
Atau sebaliknya bapakku yang didahulukan suruh nyebrang.
Jalan bagus selain kembatan uji nyali tersebut sebenranya ada, tanpa melewati jembatan kecil tersebut. Tapi kudu muter jauh bapak. Dan mungkin gregetnya kalau berangkat sekolah disitu ya. Ya jelas kasih
Dan bapakku pasti iseng kalau lagi boncengin kami pakai sepeda. Lewat jalan pinggiran tapi mepet seakan-akan mau jatuh. Sampe teriak "ojo minggir2 pak e"
Ketawa ngikik kita. Biar ga tegang
Ga bosen ketika kita lagi bonceng 3 pergi main. Kudu pegangan kencang dipinggang kakek dan tidak boleh mengantuk. Soalnya pernah kejadian hal yang tidak diinginkan dan masih terkenang sampai sekarang. Hal apakah itu?
Part 2 ya😉

Tidak ada komentar:
Posting Komentar