Minggu, 14 Februari 2021

Topeng Malaikat Part 1

Beliau seorang Guru Penjaskes di pesisir pantai kidul Yogyakarta.
Ya, Pantai Trisik.
Bapakku hebat
Bapakku kuat
Bapakku pahlawanku


Sampai sekarang beliau pensiun pun anak murid maupun alumni SD tersebut masih ingat dan segan.
Tak jarang buah tangan hasil kebun atau sawah pesisir mendarat dirumahku. Alhamdulillah, gratis dan halal serta mengenyangkan. Tentu nikmat bukan?
Setahuku, bapakku tegas. Galak pasti. Anak murid sering diberi uang jajan. Apalagi murid putra. Maklum ke empat anaknya puteri semua, termasuk aku anak keduanya.
Sewaktu aku masih kecil, masih ingat bapak sekolah pakai sepeda ontel. Ibuku selalu mengingatkan untuk memakai topi. Pernah lupa dan sampai rumah wajah putih bapak jadi merah kebakar alias gosong. Menyisakan kulit dalam yang aman dari sengatan matahari.
Jarak sekolah ke rumah kurang lebih 3kilometer. Tapi bayangkan naik sepeda naik turun dan angin yang besar.
Iya, melewati sawah yang luas membentang tanpa penghalang dan bertemu jalan raya yang tentunya aspal tersebut membentuk fatamorgana ketika siang lagi terik-teriknya. Panas menyengat.
Berangkat pagi sebelum pukul 7. Pulang jam 11 atau setengah 1.
Ibuku yang tak lupa masak sarapan. Pasti kudu sarapan dengan menu apa-adanya. Karena pagi kita semua berjuang hingga siang. Berjuang dalam artian untuk hari ini dan masa depan yang lebih baik dalam bentuk kegiatan harian, belajar dan bekerja.
Tidak selalu bersepeda. Motorpun sering ganti. Ganti dijual ataupun tukar tambah dari beli pertama kali yang sudah second. Untuk kebutuhan kami.
Motor bebek yang ringan jika dipakai ngebut. Nyaman. Tapi tidak bagi yang berbadan gemuk. Menurutku🤣
Beli sepeda motor baru pertama kali itu ketika aku kelas 6SD tahun 2001 kalau ga salah. Motornya "smash" dan itu pun berakhir dijual. Cuma sampai berumur 5 tahun sepeda motor baru kakek. Saat itu aku duduk di bangku sekolah menengah atas atau SMA. Jualnya ke tetangga desa deket SDku dulu dan kalau melihat si om yang beli lewat pasti senyum dan membatin "itu motor bapak dulu".
Hmm
Lika liku kehidupan yang pasti ada pasang surutnya. Jelas
Wajar dialami semua umat.
Roda kehidupan yang selalu berputar bukan?
Sedih kalau diingat. Bapak kerja sendiri menghidupi kami ber6 hingga lulus dengan gelar sarjana pendidikan. Berbeda dengan si bungsu yang memilih tehnik. Berbeda dengan hasil cumloudenya. Alhamdulillah😇
Istilahnya gali lubang tutup lubang ya.
Dan yang kelihatan aku dan adik pertama cuma beda 2 tahun sekolah. Saat kelulusan dan saat pendaftaran pasti berbarengan.
Bukan bermaksud menyalahkan ibuku yang tak bekerja. Bapakku memang tidak menyuruh ibu bekerja. Tapi ibu tidak sepenuhnya menganggur. Tugas ibu banyak. Sampai kami pulang sekolahpun ibuku pasti memegang kerjaan rumah. Mengupas kulit mlinjo yang sebulan cuma dapet 40rb. Dan saat itu duit segitu amat sangat besar. Bisa beli beras berapa kilo atau mencukupi kebutuhan lain. Selain itu ada juga membuat kerajinan tangan enceng gondok. Kami sekeluarga membantu. Tak jarang begadang jika kerjaan harus selesai besok.
Tangan yang kena kapal saking lamanya pegang pisau. Atau bahkan teriris pisau itu sendiri. Dan hal yang pasti kalau tanpa dibaluri plastik adalah tangan bisa keropos pedih sendiri. Soalnya mlinjo kan ada getahnya.
Dan jika sudah lupa membungkus jempol atau telunjuk dengan plastik ya resiko pedes. Pasti ga bisa bantu lagi untuk mengupas mlinjo.
Semuanya ikhlas
Sabar
Serba bergantian
Ingat kalau sepatu atau tas rusak gantian dulu adik atau kakak. Beli barangpun nunggu rusak dulu. Belum ada barang "cadangan".
Hal sedih cukup diingat aja ya.
Hal lucu dari kakekku pahlawanku sangat banyak. Pelan dan terinci aku ingin menjabarkannya semua. Sekalian membuka ingatan lamaku dulu. Sayang kalau cuma diingat tanpa ditulis. Biar jadi bahan bacaan anak cucu dan semoga senyum indah merekah bagi mereka kala membacanya.
Bapakku naik sepeda ke sekolah lewat kali atau biasa disebut sungai. Kali lumayan gede dan pagar pembatas jembatannya cuma disebelah kanan. Mau jalan barengpun ga bisa. Harus depan belakang. Semisal ada arah berlawanan mau lewat, ya kita mengalah dulu. Unik ya
Sapa-sapaan dari jarak jauh, " YoOoo pak/bu. Monggo riyen"
"Ya pak guru"
Atau sebaliknya bapakku yang didahulukan suruh nyebrang.
Jalan bagus selain kembatan uji nyali tersebut sebenranya ada, tanpa melewati jembatan kecil tersebut. Tapi kudu muter jauh bapak. Dan mungkin gregetnya kalau berangkat sekolah disitu ya. Ya jelas kasih
Dan bapakku pasti iseng kalau lagi boncengin kami pakai sepeda. Lewat jalan pinggiran tapi mepet seakan-akan mau jatuh. Sampe teriak "ojo minggir2 pak e"
Ketawa ngikik kita. Biar ga tegang
Ga bosen ketika kita lagi bonceng 3 pergi main. Kudu pegangan kencang dipinggang kakek dan tidak boleh mengantuk. Soalnya pernah kejadian hal yang tidak diinginkan dan masih terkenang sampai sekarang. Hal apakah itu?
Part 2 ya😉

Rabu, 27 Januari 2021

Diingat dan kabur

Ya, ketika semuanya menilai dengan satu sisi. Padahal banyak sisi yang bisa dinilai. Entah kebenaran ataupun keburukan.
Miris adanya.
Sedih iya.
Emosi iya🙄
Takut?
Takut tersakiti jelas😥
Dan yang lebih buruk adalah jika tidak dapat kesempatan untuk membenarkan. Untuk menceritakan keseluruhanpun tak bisa.
Contoh simple ketika dapat arisan seperti malam ini.
Sudah 2x kocokan ketika arisan perdana dan ini udah arisan ke 4 selalu nama "W" keluar untuk kedua kalinya. Bukannya menolak. Apalagi ada yang bilang "ah bapaknya L mh banyak duit, gx butuh duit".
Serasa hati ini menolak keras. Tapi sekaligus mengaminkan😇😇😇
Nyess ada yang berkata demikian.
Kenyataanya hanya sepele. Ya, mengundur kocokan arisan dikarenakan lebih baik dapat akhir karena diibaratkan kaya menabung. Enaknya diakhir.
Demikianpun gx ada yg protes malah alhamdulillah✔.
Eh ternyata bukan, ada yg kecewa lantas pulang karena tidak dapat arisan malam itu. Baiknya kalau butuh ya nuker bisa seperti kebanyakan. Semua orang juga wajar kalau duit itu pelengkap kebutuhan.
Bukan berkata sambil berlalu hingga menimbulkan pertanyaan. "Ah pulang gx dpt, ayah L trs" mengisyaratkan dy butuh.
Terbuka lebih baik🤗
Adapula yang sampai dikaitkan dengan nama "Wahid ya satu. Pasti pertama terus dapatnya"
Itupun juga boleh.
Kurang enaknya ajj sudah dijelaskan kalau arisan prinsipku dapat diakhir. Serasa bukan utang tiap bulannya harus setor tapi seakan menabung. Ibu yang paham pasti tahu dan mendiamkan. Ikut arisan juga bukan sekali ini.
Sepele kan?
Iya.
Gx terlalu dipikirkan seh. Anggap aja becandaan. Toh yang dilihat dirasakan sendiri juga beda ama mereka.
Tuhan menciptakan semua berbeda, biar ada keberagaman. Perbedaan yang membuat indah.
Yok nikmati sama sama😍💞
Belajar cuek itu perlu. Tak penting terlalu memikirkan orang lain. Tapi jika pas aja keadaan lagi sensitif eh kena juga akhirnya. Kepikiran terus sampai berlanjut ke tidur malam yang kurang nyenyak. Bahkan begadang memikirkan hal yang dianggap mereka biasa eh dikita itu hal perlu, penting😑
Disinilah perlu apa itu batas.
Pengelolaan pemikiran yang harus tepat, tahu batas berhenti berpikir dan pemikiran berkelanjutan itu sampai kapan lanjutnya🙄🤔
Selagi ada keluarga terdekat, keluarga yang selalu jadi tempat bercerita. Suami bisa. Tapi agak ragu kalau ciku. Dy sibuk dan lelah untuk memikirkan apa kata orang. Dengan curhatanku pun aku malah suruh ambil kesimpulan sendiri. Dan jawabanku itu dy iyakan dengan tambahi sedikit kata. Duuhh😏


Intinya dy nguji aku. Dy tahu kalau aku suka mengambil banyak sampel cerita2 orang atau hal yang pingn aku ketahui, hingga ditelaah dipikir dalam2 lalu ambil kesimpulan. Cerita dari beragam sisi dan menilai ini itu aiueo 12345.
"Wanita emang ribet"
Nah, itu kesimpulan dy.
Padahal tinggal jebret ajj tahu apa yg harus dilakuin, apa yg harus dijawab.
Ya gt lah dad.
Susah percaya orang jadi semuanya harus sesuai. Dipikir nemen seh. Ahaiiiii😄😄
Tapi aku suka cara berpikirku. Mengambil banyak cara baca cara dengar berita2 dan melihat dari beragam sisi baik buruknya.
Walaupun mumet dewe.
Tapi dengan demikian jadi kelihatan kabur dan anteng deh😉

Selasa, 26 Januari 2021

Bekal suami vs pengeluaran bulanan

Jam segini sudah beres menu bekal buat suami. Seperti biasa, yang wajib harus adalah lauknya.
Laki-laki gitu ya. Mending pakai lauk aja daripada sayur aja. Kurang komplit.
Sambel selalu.
Menu variatif. Kayak lagi bikinin mpasi bayi aja.
Ga enak kalau menu sama itu-itu aja. Ga enak dilihat rekan kerja. Ahaii🤣
Ilmu masak yang seadanya. Alhamdulillah belum pernah keasinan😉 Tiap masak juga dicicipin seh. Sendok garam dikurangin dikit daripada gulanya.
Mulai bawa bekal diajarin dari kecil. Dari sekolah. Walaupun cuma minuman yang penting bawa dari rumah. Selain hemat juga praktis aja, tanpa perlu nyari warung buat beli.
Aman dan kebersihan pastilah terjaga.
SMP SMA juga bawa bekal nasi, soalnya ya selain jarak sekolahan jauh juga ikut ekstrakulikuler yang jam nya ga mungkin untuk balik ke rumah dulu.
Kuliah karena kampusnya dekat cuma bawa minum aja. Hihii
Kerja bawa bekal makan siang. Walaupun dekat seh. Tapi pulang ke rumah ngapain makan sendiri. Enak di ruang guru sama-sama dan ga keburu-buru juga.


Nikah ma suami akhir 2014. Rajin juga bawain bekal. Berangkat jam 5 ngejar KRL yang dempetan padet pasti.
Pernah kejadian sayur kurang kenceng eh ketindih jd bocor. Untungnya bocor ga ke tas tapi bungkus plastiknya. Sekarang ngalahin pakai plastik aja untuk sayur yang berkuah dan bawa 2 tempat.
Menu suami yang ga suka itu pare dan bakso dicampur. Mau bakso ditambahi sayuran tumis atau kuah ga mau. Katanya amis. Padahal ga.
Hmmm
Dengan bawa bekal bisa diatur anggaran untuk mingguan ataupun bulanan. Karena belanja seminggu sekali hari sabtu atau minggu juga keliatan pengeluarannya.
Untuk jajan anak dan kebutuhan makan keluarga atau pun tetek bengek dirumah istri yang pegang. Suami pegang buat listrik, beras dan bensin. Jajan sebebas dia.
Jajannya paling kuota. Boros ngegame wae🙄
Keluarga kecil tapi rame.
Keluarga yang akan selalu bahagia. Aamiin😇😇
Anak-anak yang cepat bertumbuh.
Pandai, sholeh sholehah kelak.
Tahun corona ini berkurang jam main. Biasanya sekedar ke taman atau stadion pakansari keliling aja dan jajan tentunya. Hihi
Lucu ya kalau bayangin yang indah-indah.
Yang ga indah simpan rapi aja dalam hati. Untuk pengingat, kadang sebagai cambuk untuk sekedar tahu oh ini pas dulu bla bla bla...

Mereka adalah ...

Mereka dengan latar belakang yang berbeda, kesukuan yang berbeda dari Sulawesi sampai Aceh pun disatukan dengan misi yang sama dan tekad yan...